Barusan
ketika saya melihat berita di televisi, ada berita yang mengabarkan tentang
hilangnya pesawat AirAsia QZ8501, pesawat yang memiliki tujuan penerbangan dari
Surabaya menuju ke Singapura ini dinyatakan hilang kontak pada hari Minggu (28/12/2014) sekitar
pukul 6 pagi WIB. Pesawat AirAsia QZ8501 membawa 155 penumpang, yang
terdiri dari 138 orang dewasa, 16 anak-anak dan seorang bayi. Sampai saat ini pun
pesawat belum juga ditemukan, dan pihak2 terkait seperti BASARNAS, TNI,
POLRI sedang melakukan proses pencarian semenjak pesawat dinyatakan hilang
kontak. Dan beberapa negara-negara tetangga dikabarkan menawarkan bantuan
seperti Malaysia, USA, RRC, Australia, dll. Bahkan kabar hilang kontaknya
pesawat AirAsia QZ8501 ini mejadi trending topik dunia. Contohnya di Jepang
hampir semua media mengabarkan berita tentang pesawat AirAsia QZ8501 ini.
Berdasarkan
berita yang saya lihat dan dengarkan dari berbagai sumber, pesawat ini diduga
jatuh karena melintasi awan kumulonimbus. Menurut Kepala Badan Metereologi,
Klimatologi, dan Geofisika Andi Eka Sakya, awan ini memang sangat berbahaya
bagi penerbangan dan harus dihindari oleh setiap pilot yang sedang mengudara
karena berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan.
Untuk mengetahui apa itu
awan kumulonimbus, saya akan sedikit membahasnya disini,
Awan Kumulonimbus adalah
sebuah awan vertikal yang menjulang sangat tinggi, tebal dan padat. Tak jarang
awan ini juga terlibat dalam badai petir dan cuaca ekstrim lainnya.
Jadi awan ini sangat berbahaya
untuk aktivitas penerbangan dan dihindari oleh para pilot karena dapat merusak
mesin-mesin pesawat.
Bahkan saat ini proses pencarian
terus dilangsungkan, tetapi belum juga ditemukan keberadaan pesawat QZ8501 ini,
salah satu hal yang menyebabkan sulitnya pencarian adalah karena sinyal darurat
pesawat AirAsia QZ8501 atau yang biasa dikenal dengan ELT(Emergency Local Transmitter ) belum bisa ditangkap Badan SAR Nasional. Menurut Kepala Basarnas, Bambang Soelistyo “Seharusnya sinyal ditangkap sistem kita dan memberikan
peringatan. Namun, sampai detik ini, sinyal itu tidak tertangkap dalam sistem
kita. Negara-negara tetangga sudah kita cek dan mereka juga tidak menangkap
sinyal ELT (AirAsia QZ 8501),”
Sinyal ini tidak dapat
dideteksi oleh system yang dimiliki BASARNAS, memang hal ini dapat terjadi jika
ELT membentur benda-benda keras dan jatuh ke dalam laut. Karena jika di dalam
laut fungsi
ELT digantikan oleh Underwater Locator Beacon(
ULB) atau pinger.
“Alat itu menempel pada black
box dan memancarkan terus menerus suara ping, ping, ping selama 30 hari. Suara
tersebut memancar dalam frekuensi dan interval tertentu dengan jarak 500 meter
dari posisi ULB” kata Prof. Dr. Mardjono
Siswosuwarno (Penyelidik senior Komisi Nasional
Keselamatan Transportasi ~KNKT).
Namun Apapun yang terjadi saat
ini, kita harus tetap berdoa dan berharap yang terbaik bagi Pesawat AirAsia
QZ8501 ini. Semoga saja pihak dari BASARNAS, TNI, POLRI, dan semua pihak yang
terlibat dalam proses pencarian ini bisa segera menemukan tanda-tanda
keberadaan pesawat ini.



Ada kabar baru udah ditemukan mas.! barusan saya cek di forum2 ada.! coba anda cek..
ReplyDeleteTruss saya punya saran sebaiknya text background nya itu warna lain.. karna menurut saya warna text yang abu-abu campur sama background text yang putih jadi kurang jelas.. trimakasih..
ya saya sudah klo ketemu pesawatnya, tpi kn semua korban sampai skrang ini blom dievakuasi
ReplyDelete